Struktur dan Kepemimpinan Sai Batin serta Perannya dalam Masyarakat Adat
DOI:
https://doi.org/10.71417/jchi.v1i2.80Keywords:
Adat Lampung , Pesisir , Pepeadun, piil pesenggiri , Pelestarian Budaya , Sai BatinAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbedaan antara adat Lampung Pesisir dan Pepadun, dengan fokus utama pada struktur kepemimpinan, falsafah hidup, prosesi adat, simbol budaya, serta tantangan pelestarian di era modern. Adat Lampung terbagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu Pepadun yang bersifat demokratis dan Pesisir yang bersifat aristokratis. Masyarakat Lampung Pesisir menganut falsafah Piil Pesenggiri yang terdiri atas nilai nemui nyimah, nengah nyappur, sakai sambayan, juluk adek, dan pesenggiri sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Struktur kepemimpinan masyarakat Pesisir menempatkan Sai Batin sebagai pemimpin tertinggi yang diwariskan secara turun-temurun, sedangkan gelar adat (adek) menjadi simbol kehormatan dan identitas sosial. Prosesi adat pernikahan, penggunaan kain tapis, serta bahasa Lampung dialek Api merupakan bagian penting dari identitas budaya masyarakat Pesisir. Nilai kebersamaan, kekeluargaan, dan gotong royong sangat dijunjung tinggi dalam setiap kegiatan adat. Namun, di era globalisasi, masyarakat Pesisir menghadapi berbagai tantangan, seperti menurunnya penggunaan bahasa daerah, minimnya dokumentasi tradisi, dan pergeseran nilai akibat urbanisasi. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama dari tokoh adat, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk melestarikan warisan budaya Lampung Pesisir agar tetap relevan bagi generasi mendatang.
Downloads
Downloads
Published
License
Copyright (c) 2025 Tajrian Surya Binarsa (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.












