Analisis Hukum Islam terhadap Tradisi Pemberian Mahar yang Bernilai Tinggi serta Potensi Dampak pada Perkawinan

Authors

  • Hesty Nesyah Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang Author
  • Holijah Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang Author
  • Muhammad Dzaki Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang Author
  • April Lianti Nadia Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang Author

DOI:

https://doi.org/10.71417/jchi.v2i2.248

Keywords:

Mahar , Hukum Islam, Mahar Tinggi, Perkawinan, Magasid Al-Syariah

Abstract

Mahar adalah kewajiban suami yang ditegaskan Al-Qur'an, tetapi hukum, Islam tidak menetapkan batas maksimalnya, Ruang kosong ini diisi oleh adat di berbagai daerah, dan di sebagian tempat nilai mahar naik menjadi penanda status sosial yang membebani calon suami. Penelitian ini bertujuan menganalisis kedudukan mahat bernilai tinggi menurut bukum, Islam dan memetakan potensi dampaknya terhadap perkawinan, Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan normatif-konseptual terhadap Al-Qur'an, hadis, Kompilasi Hukum Islam, dan lima belas artikel jurnal karya penulis Indonesia yang terbit pada 2017 sampai 2026. Data dianalisis secara deskriptif-analitis melalui kategorisasi tema. dan penalaran maqasid al-gyariah. Hasil kajian menunjukkan bahwa mahar tinggi tidak dilarang selama memenuhi tiga syarat yaitu kerelaan kedua pihak, kemampuan calon suami, dan fungsi mahar sebagai penghormatan, bukan alat gengsi. Bila syarat itu gagal, mahar tinggi berpotensi menunda perkawinan, mendorong utang dan kawin lari, serta menggeser makua mahar menjadi komoditas. Penelitian ini menawarkan uji tiga lapis untuk menilai mahar tinggi dan merekomendasikan kesepakatan adat yang transparan serta edukasi hukum.

 

Downloads

Download data is not yet available.

References

Akbar, S., & Sainun. (2024). Eksistensi mahar dalam perkawinan: Antara simbol status sosial dan kewajiban agama. Intizar, 30(1).

https://doi.org/10.19109/intizar.v30i1.22709

Apriyanti, A. (2018). Historiografi mahar dalam pernikahan. An Nisa’a, 12(2), 163–178. https://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/annisa/article/view/1787

Ferdian, E. (2021). Batasan jumlah mahar (maskawin) dalam pandangan Islam dan hukum positif. Jurnal Ilmiah Ahwal Syakhshiyyah (JAS), 3(1), 49–59. https://doi.org/10.33474/jas.v3i1.10984

Gani, B. A., & Hayati, A. (2017). Pembatasan jumlah mahar melalui keputusan musyawarah adat Kluet Timur. Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam, 1(1), 174–204.

Irawan, I., & Jayusman, J. (2019). Mahar hafalan Al-Qur’an perspektif hukum Islam. Palita: Journal of Social Religion Research, 4(2), 121–136.

https://doi.org/10.24256/pal.v4i2.804

Jayusman, J., Shafra, Yarmunida, M., & Nurfatati. (2024). Tradisi mahar berupa emas pada perkawinan masyarakat Kecamatan Tanjung Senang perspektif hukum Islam dan hukum positif. Muqaranah, 8(1), 1–16. https://doi.org/10.19109/bx3zsw58

Kafi, A. (2020). Mahar pernikahan dalam pandangan hukum dan pendidikan Islam. Paramurobi: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 3(1), 55–62. https://doi.org/10.32699/paramurobi.v3i1.1436

Nasmi, N., Bakry, M., Haddade, A. W., & Salam, A. (2025). Dinamika uang panai’ di Kota Makassar pasca Fatwa MUI Sulawesi Selatan No. 2 Tahun 2022: Menakar kepatuhan syariah dan pelestarian tradisi. Shautuna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Perbandingan Mazhab, 6(1), 135–150.

https://doi.org/10.24252/shautuna.v6i1.54136

Nurdin, R., Cholil, M., & Suwandi, D. (2022). Standarisasi mahar nasional (studi analogi tradisi penetapan mahar Kecamatan Kluet Timur Kabupaten Aceh Selatan). Jurnal Ilmiah Ahwal Syakhshiyyah (JAS), 4(1), 142–153. https://doi.org/10.33474/jas.v4i1.14757

Nurheliza, S., & Adly, M. A. (2026). A legal analysis of the commercialization of the mahar due to the absence of limits on the mahar in the Compilation of Islamic Law. Al-Usrah: Jurnal Al Ahwal As Syakhsiyah, 14(1). https://doi.org/10.30821/al-usrah.v14i1.30397

Odi, M. (2024). Kawin lari dalam perspektif hukum Islam (studi kasus Kepulauan Sepudi Desa Kalowang Kecamatan Gayam Kabupaten Sumenep). Jurnal Keislaman Terateks, 9(1), 62–70.

Presiden Republik Indonesia. (1991). Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam.

Sulfa, N., & Khair, N. (2025). Konsep mahar dalam Surah An-Nisa ayat 4: Pendekatan maqasid Al-Qur’an dalam perspektif Rasyid Ridha. Al Karima: Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir, 9(1), 92–109. https://doi.org/10.58438/alkarima.v9i1.303

Warahmah, M., Syatar, A., & Abidin, Z. (2025). Status sosial perempuan dan makna uang panai’ dalam pernikahan Bugis-Makassar perspektif hukum Islam (studi kasus Kecamatan Sinjai Barat). Qadauna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Hukum Keluarga Islam, 7(1). https://doi.org/10.24252/qadauna.v7i1.59289

Yasrony, M. A. (2022). Mahar dalam pernikahan dan dampaknya terhadap keharmonisan dalam rumah tangga (analisis fenomenologis terhadap problem pernikahan di masyarakat Jawa). Jatijajar Law Review, 1(1). https://doi.org/10.26753/jlr.v1i1.728

Zahrum, N., & Marwing, A. (2023). Tinjauan hukum Islam terhadap uang panai’ dalam tradisi pernikahan suku Bugis-Makassar. Bustanul Fuqaha: Jurnal Bidang Hukum Islam, 4(2), 266–282. https://doi.org/10.36701/bustanul.v4i2.935

Downloads

Published

2026-10-28

How to Cite

Analisis Hukum Islam terhadap Tradisi Pemberian Mahar yang Bernilai Tinggi serta Potensi Dampak pada Perkawinan. (2026). Jurnal Cendekia Hukum Indonesia, 2(2), 370-387. https://doi.org/10.71417/jchi.v2i2.248

Similar Articles

81-90 of 199

You may also start an advanced similarity search for this article.